Senin, 19 Maret 2012

KONTRIBUSI MAHASISWA KRISTEN TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER BANGSA

KONTRIBUSI MAHASISWA KRISTEN TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER BANGSA

Laporan Penelitian
Dibuat dan disusun sebagai persyaratan untuk mengikuti Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia semester ganjil 2010/2011

oleh
DESI FRISKA JULIA SIANTURI/ 1010103
UCE KONTANTIN SIRITUKA/1010108
Program S-1
logo_sttbJurusan Teologi




SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BANDUNG
Bandung, 2010

PRAKATA
P

uji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penulisan laporan penelitian ini.
Laporan penelitian yang berjudul “Kontribusi Mahasiswa Kristen Terhadap Pengembangan Karakter Bangsa” dibuat untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia tahun ajaran 2010/2011.
Dalam penulisan laporan penelitian ini, terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, dengan lapang dada dan sikap terbuka penulis bersedia menerima segala saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan dari hasil penelitian ini.
Semoga karya ilmuah ini dapat berguna bagi semua pembaca.


Bandung, 30 Desember 2010

Penulis      







T
ABSTRAK
he writer unbottles the main matter that faced in a nation namely the development of character. The christian student university so central in build good character by formed the development or good nation progress and model.
The writer believe that this material can help all of us to buildiding a good character in our nation for materialized a useful nation and valuable in front of human particularly in front of God Very One. The purpose iof the writing of thids paper is to gets student university that want to come along to impersonate with in nation character development especially christian student  university,and also  the Christian student unuiversity possible model for ones at vinicity.

Penulis menuangkan pokok masalah yang di hadapi suatu bangsa yaitu yang terutama adalah masalah perkembangan karakter bangsa. Mahasiswa Kristen sangat berperan dalam membangun karakter yang baik demi terwujudnya perkembangan atau kemajuan bangsa yang baik dan terteladan.
Penulis yakin materi ini dapat membantu kita semua untuk dapat membangun karakter yang baik dalam satu bangsa demi terwujudnya suatu bangsa yang berguna dan berharga di hadapan manusia terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh mahasiswa yang mau ikut berperan serta dalam pembangunan karakter bangsa terutama mahasiswa Kristen, dan juga agar masyarakat menngetahui bahwa mahasiswa Kristen bisa jadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.







DAFTAR ISI
PRAKATA
ABSTRAK
DAFTAR ISI
Bab I  Pendahuluan
 Latarbelakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Pembahasan
Ruang Lingkup Kajian
Sumber Data
Metode dan Tekhnik Penelitian
Bab II Kajian Teori
Bab III Pembahasan
Memaknai Peran Dan Fungsi Mahasiswa
Realita Mahasiswa Indonesia Saat Ini
Mahasiswa Kristen,Jati Diri Yang Rusak
Bagaimana Seharusnya Peran Mahasiswa Kristen?
Peran Mahasiswa Kristen Sebagai Agen Perubahan Dalam Krisis Karakter Bangsa
Bab IV Simpulan Dan Saran
Daftar Pustaka
Riwayat Hidup Penulis




BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latarbelakang Masalah
Seiring bertambahnya usia, seyogianya manusia menjadi lebih tahu apa sebenarnya peran dan bagaimana bersikap terhadap peran itu. Setidaknya, untuk ukuran manusia yang hakikatnya adalah makhluk yang memiliki perasaan (sensibility) di samping pikiran (sense) dan akal (wit), baiknya ajaran Kristiani diaplikasikan, bukan hanya disimpan dalam hati. Salah satunya, peran mahasiswa Kristen yang patut dicoba adalah sebagai agen perubahan dalam krisis karakter bangsa. Bangsa bukan kumpulan sedikit orang, namun puluhan bahkan ratusan juta. Dan, bangsa bukan lagi sendiri-sendiri, melainkan suatu kesatuan: alam, pemerintah dan rakyat.
Dengar-dengar, karakter bangsa sedang terlanda krisis. Dengar-dengar jadi sebuah fakta karena banyak sekali kejadian-kejadian yang terus-menerus menunjukkan adanya krisis karakter simpang siur di media-media. Dalam probabilitas, siapa sangka krisis karakter ini, mau tidak mau, salah satunya ternyata disebabkan juga oleh lagi-lagi krisis finansial, walaupun secara tidak langsung.
Masih hangat dalam ingatan kita jatuhnya rezim orde baru tahun 1998.Pergerakan ini dimotori oleh mahasiswa,yang merupakan puncak dari aksi perjuangan mahasiswa di era orde baru.Setelah itu,hampir tidak ada lagi gerakan mahasiswa seperti ini.Sejak saat itu,mulailah bangsa Indonesia memasuki masa reformasi.Tetapi bangsa Indonesia tetap saja mengalami berbagai macam krisis,bahkan bertambah parah.Dari krisis ekonomi,krisis sosial,krisis kepercayaan,sampai kepada krisis karakter.Keadaan bangsa kita sudah sangat parah.Sedang kebingungan ke mana akan melangkah. Bangsa ini perlu ada yang memandu,dan mahasiswa adalah alat yang tepat untuk itu.
Seiring dengan kemajuan teknologi pada zaman modernisasi ini, banyak masyarakatr Indonesia yang mengalami krisis moral dan karakter yang buruk. Oleh karena hal ini, mahgasiswa keristen sangat berperan untuk mengatasi krisis moral dan karakter yang buruk tersebut. Pada masa ini, mahasiswa Kristen harus bisa menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya.
Pada makalah ini, penulis akan membahas tentang peran mahasiswa Kristen terhadap perkembangan karakter bangsa. Penulis mengharapkan yang membaca makalah ini dapat ikut serta dalam pembangunan karakter bangsa. Jika hal ini tidak dibahas, maka kemungkinan besar mahasiswa Kristen dan orang lain yang ingin mencari bagaimana peran untuk mengembangkan karakter bangsa.
1.2.Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis membahas tentang beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
1.2.1.      Bagaimana peran mahasiswa Kristen terhadap perkembangan karakter bangsa?
1.2.2.      Apa dasar mahasiswa Kristen untuk berperan dalam perkembangan karakter bangsa?
1.2.3.      Apakah ada yang lain yang bisa membantu mahasiswa Kristen dalam perkembangan karakter bangsa? Siapakah yang dapat membantu mahasiswa Kristen itu?
1.3.Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, sebagai berikut:
1.3.1        Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh mahasiswa yang mau ikut berperan serta dalam pembangunan karakter bangsa terutama mahasiswa kristen.
1.3.2        Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk agar masyarakat menngetahui bahwa mahasuiswa Kristen bisa jadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.
1.3.3        Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas semester bahasa Indonesia
1.4.Ruang Lingkup Kajian
Dalam makalah ini penulis hanya membahas sebatas bagaimana peran mahasiswa Kristen dalam pembangunan karakter bangsa, dan juga bagimana mahasiswa kristen bisa jadi teladan bagi masyarakat yang ada di sekelilingnya.
1.5.Sumber Data
Penulis mendapatkan data-data dalam makalah ini dari beberapa buku dan juga melalui internet. Penulis juga mendapayt informasi melalui apa yang dilihat dan dialami oklegh masyarakat dan juga para mahasiswa pada zaman sekarang ini di zaman modernisasi ini.
1.6.Metode dan Tekhnik Penelitian
Penulis menggunakan beberapa metode dalam pembuatan makalah ini, yaitu:
·         Wawancara
·         Studi kepustakaan

BAB II KAJIAN TEORI
Partisipasi penuh dari kaum intelektual dalam pembangunan dan pembenahan di setiap bidang dalam masyarakat adalah hal yang mutlak. Sehingga peranan mahasiswa yang diidentikkan sebagai kaum intelektual tentu sangat penting untuk mengubah bangsa ini melalui seluruh potensi dan kecerdasan yang dimilikinya. Maka dibutuhkan mahasiswa yang peka terhadap kondisi bangsa dan tantangan zaman ini serta tergugah untuk memikirkan solusinya. Kelak merekalah yang harus menjawab tantangan zaman tersebut dengan menjadi agen-agen pembawa perubahan (agent of change) bagi bangsa secara khusus dan bagi dunia secara lebih luas.
Eksistensi dari peran ini terus diuji. Arus zaman yang mengalir deras tanpa bisa dibendung mempengaruhi setiap aspek kehidupan mahasiswa dan hal ini menjadi tantangan besar bagi terlaksananya peran tersebut secara maksimal. Apalagi arus ini terus menawarkan hal-hal yang menggiurkan bagi para mahasiswa termasuk anak-anak Tuhan sehingga mereka melupakan tugas dan peran mereka yang sesungguhnya. Tidak sedikit anak-anak Tuhan yang memilih untuk meninggalkan ajaran Alkitab demi mengejar kesenangan sesaat.
Individualisme
Di dalam lingkup sosial, para mahasiswa diperhadapkan dengan budaya “semau gue” yang sudah semakin menjamur. Kepedulian terhadap lingkungan dan sesama sangat rendah. Persaingan untuk menjadi yang terbaik dan mengejar nilai kuliah membuat mahasiswa lupa bahwa dia tetaplah makhluk sosial yang hidup bersama orang lain.
Degradasi Moral
Moralitas yang semakin bobrok juga melanda mahasiswa. Merokok, mengonsumsi narkoba, dan seks bebas sudah bukan hal yang tabu. Selain itu budaya mencontek, membolos kuliah, titip absen, atau membayar orang lain untuk mengerjakan skripsi juga sudah sangat lazim. Tidak heran jika sikap kritis mahasiswa dalam berpikir juga semakin menurun.
Kita tidak bisa membendung arus zaman yang akan terus mengalir dan mempengaruhi dunia ini dengan ajaran-ajarannya termasuk di dalam dunia mahasiswa. Alkitab juga telah menuliskan dengan jelas mengenai keadaan manusia pada akhir zaman. 2Timotius 3:1-5 menguraikan tentang individualisme, materialisme, hedonisme, dan degradasi moral secara lugas:“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri (lovers of themselves) dan menjadi hamba uang (lovers of money). Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu (lovers of pleasure) daripada menuruti Allah (lovers of God). Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya”. Tidak ada jalan lain bagi mahasiswa selain terus berusaha dan berjuang melawan arus zaman ini serta bekerja keras untuk tetap bertahan dan mampu berperan sebagai agent of change.
Agar dapat melawan arus zaman, maka modal yang dimiliki harus mencukupi. Mahasiswa Kristen harus terlibat mempengaruhi zaman ini (menjadi garam dan terang), maka kita jangan hanya memenuhi diri dengan ilmu tapi juga dengan kedewasaan karakter dan spiritualitas yang baik. Relasi yang dekat dengan Tuhan dan berakar kuat di dalam firman-Nya merupakan pondasi kuat untuk melawan filsafat zaman karena itu sumber segala kebenaran haruslah menjadi prioritas. Mahasiswa harus bersandar terus menerus kepada Tuhan di dalam doa serta mau mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Ef. 6:10-18). Keterlibatan di dalam organisasi-organisasi Kristen (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sebagai wadah untuk bersekutu dan memperlengkapi diri bersama saudara-saudara seiman juga perlu dilakukan. Kerinduan untuk bersekutu harus melebihi kehausan untuk memenuhi keinginan daging. Namun hal yang harus terus direnungkan oleh PMK adalah “Apakah PMK sudah menjadikan dirinya sebagai sarana yang tepat untuk menjawab kebutuhan ini? Apakah setiap program yang dilakukan benar-benar bisa menjadi sarana untuk mempersiapkan mahasiswa Kristen dalam menjawab arus tantangan zaman ini? Ataukah masih sekedar melaksanakan program tanpa arah sebagai warisan dari leluhur? Mari terus berbenah diri, menyongsong zaman yang semakin mengerikan. Mari terus memperlengkapi diri, menjadi agent of change bagi bangsa dan dunia ini.

BAB III PEMBAHASAN
1.      MEMAKNAI PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA
Kita tentu ingat peran mahasiswa pada umumnya yaitu sebagai Iron Stock,Social Control,Agent of Change,dan Moral Force. Sebagai Iron Stock,mahasiswa adalah ibarat aset bagi suatu bangsa.Ibarat cadangan logam (Iron Stock) di suatu negara yang bisa menjadi tolak ukur kemakmuran suatu negara,demikianlah jumlah mahasiswa yang unggul baik secara wawasan,moral,karakter,dan skill di suatu negara dapat menjadi tolak ukur kemajuan SDM suatu Negara.Ini berarti mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa,harapan bangsa;karena nantinya mahasiswa yang harus menggantikan generasi generasi sebelumnya untuk menduduki posisi posisi strategis dalam kepemimpinan bangsa
Sebagai pengusung Moral Force mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka adalah sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di masa depan.
Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan kontrol sosial. Sebagai kontrol sosial (Social Control), mahasiswa dapat melakukan peran preventif dengan membantu masyarakat dalam mewujudkan ketentuan dan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak, sekaligus mengkritisi peraturan yang tidak adil dan tidak berpihak pada masyarakat.Kontrol terhadap kebijakan pemerintah tersebut perlu dilakukan karena banyak sekali peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang hanya berpihak pada golongan tertentu saja dan tidak berpihak pada kepentingan masyarakat banyak. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani mereka, bukan atas keterpaksaan maupun intimidasi dari pihak luar. Segala sesuatu yang mereka perjuangkan adalah sesuatu yang mereka yakini adalah baik untuk kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Hal tersebut berlaku dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.Namun tentunya sikap kritis mahasiswa tidak harus pada isu-isu nasional tapi dapat juga kritis pada isu-isu lokal seperti pencemaran lingkungan, kebijakan pemerintah setempat yang dirasa merugikan masyarakat kecil, tindakan sewenang-wenang pemerintah setempat pada masyarakat kecil, ataupun perihal lainnya.
Dan akhirnya sebagai Agent of Change,mahasiswa dituntut sebagai agen yang membawa perubahan pada suatu bangsa Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Walaupun zaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah dari mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme.Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil. Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri.Tidak dapat dipungkiri bila generasi muda khususnya para mahasiswa, selalu dihadapkan pada permasalahan global. Setiap ada perubahan, mahasiswa selalu tampil sebagai kekuatan pelopor, kekuatan moral dan kekuatan pendobrak untuk melahirkan perubahan.
2.      REALITA MAHASISWA INDONESIA SAAT INI
Saat ini dihadapkan pada tantangan pembangunan yang kian kompleks untuk mengatasi dampak krisis global, sebagaimana dialami pula oleh bangsa-bangsa lain. Globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi telah membuktikan bahwa hanya bangsa yang memiliki karakter kuat dan tangguh yang akan sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Semua negara, termasuk bangsa Indonesia, mendambakan menjadi bangsa yang kuat dan tangguh, karena bangsa yang tangguh akan sanggup untuk mengubah berbagai tantangan menjadi peluang yang menguntungkan bagi kemajuan rakyatnya.Namun, sayangnya perjalanan bangsa Indonesia menuju bangsa yang tangguh dan mandiri, serta berjiwa pancasilais menemui tembok tebal. Penyebabnya adalah hilang atau memudarnya  ”karakter bangsa” kita
Melihat fenomena meresahkan berupa merebaknya seks bebas di kalangan pelajar dan mahasiswa Semakin banyak generasi muda yang terjerumus dalam pemakaian narkoba dan obat-obat terlarang. Kesemuanya itu adalah komplikasi sedikit dari banyak kasus demoralisasi dan dehumanisasi di negara ini. Bukan hanya di kalangan rakyat biasa, di kalangan elit pemerintahan pun kita dapat melihat bahwa degradasi karakter terlihat pada sektor kepemimpinan yang mengalami krisis. Kehidupan berbangsa telah kehilangan tokoh panutan yang seharusnya mampu mengayomi masyarakat. Konsep demokrasi yang digembor-gemborkan oleh para pemimpin hanya menghasilkan politisi tamak, rakus, dan korup. Rasanya wajar jika banyak orang mengatakan banyak pemimpin yang haus akan kekuasaan. Mereka berlomba-lomba menjadi penguasa untuk mendapat fasilitas, uang, dan pengaruh. Kekuasaan dimanfaatkan untuk kepentingan kelompoknya. Mereka seakan lupa bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Korupsi dan godaan duniawi mudah menjerat seluruh elemen bangsa ini, dari tingkat tertinggi sampai terendah. Kepentingan pribadi dan golongan akhirnya muncul sebagai pemenangnya, mengalahkan kepentingan bangsa. Krisis karakter telah mewarnai perjalanan bangsa ini
3.      KRISIS  KARAKTER  SEBAGAI  RESISTEN  BAGI  KEMAJUAN  BANGSA
Krisis karakter telah mengancam persatuan dan kesatuan yang seharusnya menjadi modal dasar untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang menghargai keberagaman. Jika krisis karakter bangsa Indonesia tidak segera dibenahi, maka tujuan pembangunan bangsa Indonesia dikhawatirkan tidak tercapai. Hal itu karena karakter bangsa umumnya bersifat kolektif atau akumulasi dari karakter pribadi seluruh warga bangsanya
Untuk menumbuhkan karakter yang baik perlu dilakukan pembinaan, dan hal itu sangat erat korelasinya dengan kekuatan yang dimiliki bangsa dalam menyelenggarakan pembangunan. Karakter positif adalah energi penggerak utama yang akan mendayagunakan semua modal yang dimiliki suatu bangsa dalam mencapai cita-cita menyatakan bahwa karakter bangsa sama pentingnya dengan sumber daya fisik yang dimiliki bangsa itu, untuk mencapai kemajuan bangsanya . Kita sebagai Mahasiswa Kristen  diharapkan sebagai penggerak pemberdayaan yang populis untuk menyelesaikan degradasi karakter bangsa.
Mahasiswa Kristen dituntut untuk berkiprah di masyarakat di berbagai bidang.  Yang terpenting adalah peranan itu harus transformatif,  yang membawa perubahan dan ditujukan untuk semua golongan di masyarakat tanpa memandang suku, agama dan sebagainya. saat ini peran mahasiswa Kristen dan organisasinya dalam upaya membenahi krisis karakter bangsa belum terlalu terlihat. Generasi muda Kristen, dengan integritasnya sebaiknya tampil memiliki jati diri dan siap menjadi pemimpin yang berkarakter, siap menggemakan semangat bangkit dari keterpurukan dan rasa saling menyakiti antar komponen bangsa, dan siap menjadi pioner gerakan nasionalisme.
Namun apa yang terjadi,kebanyakan mahasiswa bangsa kita lebih senang berhura-hura, malas berpikir dan berdiskusi, tidak serius belajar serta terlanjur terjerumus dalam modernisasi yang membuat mereka menjadi kaum oportunis. Secara tak sadar, para generasi muda dihinggapi dengan pandangan dan perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan.Hambatan dan proses pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Mereka adalah manusia yang dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu mamahami permasalahan di sekitarnya, kemudian menganalisis serta menerapkan solusi masalah tersebut dalam bentuk nyata. Tapi apa daya,definisi tak selaras dengan implementasi. Mereka belum mampu membuat harapan bangsa ini menjadi kenyataan yang lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan mereka tidak memaknai peran yang diemban, posisi di mana mereka berada, serta fungsinya di mata masyarakat. Hanya lebih menonjolkan individualisme yang demikian melambung.
Masih ingat dengan mahasiswa Indonesia yang kerjanya hanya belajar, belajar dan belajar demi IP tinggi dan cepat lulus. Mahasiswa Indonesia ini umumnya semakin terkena penyakit yang penting studi saja. Mahasiswa ini, kalau di kampus, paling tahunya cuma jurusannya, lalu perpustakaan, setelah itu, pulang ke rumah atau tempat kosnya. Mahasiswa Indonesia kelas ini pikirannya cuma belajar saja, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk membangun diri dengan terlibat di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi yang baik di luar kampus. Bahkan kadang, mahasiswa Indonesia ini menganggap segala aktifitas di luar kelas itu adalah pemborosan waktu. Dengan nilai dan IP yang wajar kalau lebih bagus dari nilai atau IP mahasiswa yang juga aktif berorganisasi, mahasiswa Indonesia ini bahkan bisa menilai mahasiswa lainnya dari tinggi rendahnya nilai atau IP. Begitu bangganya mereka dengan prestasi akademik mereka, seolah-olah kesuksesan hidup setelah lulus kuliah seluruhnya ditentukan oleh angka-angka itu. Tentu lebih baik kalau nilai atau IP bagus itu diperoleh dengan cara jujur dan menunjukkan penguasaan akan materi kuliah.Tetapi,kalau angka-angka itu diperoleh dengan cara yang tidak benar,lalu apa yang sebenarnya patut dibanggakan oleh mahasiswa Indonesia ini?
Di titik ekstrim lainnya ada mahasiswa yang justru sudah kurang peduli lagi dengan kuliah dan studinya, dan malah fokus dengan kesibukannya di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi di luar kampus. Hal itu baik kalau apa yang mereka kerjakan itu memang sungguh berguna buat mereka dan rakyat.Apa jadinya kalau sebenarnya yang mereka kerjakan cuma menghabiskan waktu dan uang, kumpul kumpul tidak jelas dengan mahasiswa sejenis, diskusi tanpa arah dan tujuan,lalu main bola, main kartu.Apa arti semua itu dibandingkan sekian banyak tahun kuliah dan uang yang terbuang, apalagi kalau akhirnya drop out (DO),lalu apa sebenarnya yang dicari mahasiswa Indonesia macam ini?
Yang paling parah adalah kejahatan akademis,sebab sudah merupakan kejahatan melawan hukum. Karena mahasiswa Indonesia sudah tidak punya hasrat untuk menguasai ilmu yang dipelajarinya, entah karena alasan apa, dan diperburuk dengan mental cepat lulus dengan IPK setinggi-tingginya, mahasiswa ini lalu menggunakan berbagai teknik kreatif untuk menyontek waktu ujian atau mengerjakan tugas. Meski isi kepalanya kosong, mahasiswa yang menyontek itu tetap tertawa-tawa bangga waktu nilai ujiannya A atau justru marah ketika dapat nilai jelek.Tindakan pembohongan ini juga terjadi tidak hanya waktu ujian. Mengapa sering kali tanda tangan di absensi mahasiswa lebih banyak daripada yang hadir di kelas? Berani titip absen tanpa perasaan bersalah atau gelisah sudah umum bagi mahasiswa Indonesia.
Tidak hanya itu,banyak sekali aksi kejahatan sosial di luar kampus yang dilakukan mahasiswa.Berapa banyak mahasiswa yang jadi bandar judi dan narkoba?Berapa banyak mahasiswa pemakai narkoba?Berapa banyak mahasiswa perempuan yang mencari pekerjaan sambilan sebagai ayam kampus?Dan ternyata banyak penghuni penjara adalah mahasiswa.Bukankah ini semua bukti dasar bahwa mahasiswa Indonesia sudah kehilangan esensi dan tujuan sejati dari menjadi mahasiswa dan belajar di perguruan tinggi?
4.      MAHASISWA KRISTEN,JATI DIRI YANG RUSAK
Bagaimana dengan mahasiswa Kristen sendiri? Keadaannya juga tidak jauh beda dengan mahasiswa pada umumnya Mahasiswa Kristen pun banyak melakukan tindakan seperti yang disebutkan di atas..Mahasiswa Kristen juga banyak yang melakukan kejahatan,.Bahkan peran mahasiswa Kristen sebagai garam dan terang dunia,untuk menerangi dunia yang rusak ini juga tidak terlihat.Malah terkadang mahasiswa Kristen sendiri melakukan hal yang lebih parah.Jika kita ingin melihat buktinya,coba kunjungi penjara atau lembaga pemasyarakatan.Tidak heran,banyak nama nama mahasiswa Kristen yang ada di dalamnya.Apakah ini yang disebut mahasiswa Kristen?
Bukan hanya itu,terkadang mahasiswa Kristen juga terpengaruh sikap yang tidak terpuji,seperti hedonisme,apatisme dan eksklusivisme.Berapa banyak kita lihat di kampus mahasiswa Kristen yang hanya mau bergaul dengan sesama Kristen,bahkan terkadang hanya ada yang mau bergaul dengan teman gerejanya saja.Nampaknya Pemuda dan mahasiswa Kristen di Indonesia perlu mengubah pandangannya mengenai kemajemukan berbangsa dan bernegara guna menghilangkan sikap eksklusivisme di tengah kehidupan masyarakat
5.      BAGAIMANA SEHARUSNYA PERAN MAHASISWA KRISTEN?
Jika kita lihat lagi,akar semua permasalahan yang ada pada bangsa ini disebabkan karena permasalahan karakter.Karena itu,karakter mahasiswa Kristen sejati sangat diperlukan.Adalah hal yang mustahil memisahkan antara kepemimpinan Kristen dengan karakternya, antara kepemimpinan Kristen dengan kehidupan spiritualitasnya. Ini adalah yang paling penting bila hendak membangun mahasiswa Kristen yang berhikmat dan berdedikasi tinggi bagi bangsa, Bangsa ini perlu ditolong terutama dalam membangun karakternya, dan kita semua harus berperan di dalamnya.
Seorang mahasiswa Kristen seharusnya memiliki jati diri ganda: warga dunia sekaligus warga surga. Dua jati diri itu tidak dikotomis, melainkan saling mengisi. Dalam perspektif iman Kristen yang holistik, mencintai Tuhan menjadi nyata dalam mencintai sesama dan dalam tingkat berbangsa adalah mencintai negeri. Pertanyaannya, bagaimana seorang Mahasiswa Kristen mewujudkan cinta akan negeri?Pertama, sudah sewajarnya mahasiswa Kristen menjadi bagian dari barisan penegak demokrasi dalam masyarakat yang majemuk bersama dengan komunitas umat lain yang juga memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan pluralisme. Kedua, berangkat dari keyakinan bahwa imannya adalah hidup, mahasiswa Kristen ditantang untuk mewujudnyatakan iman itu dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Negeri kita sedang membangun dan mengisi kemerdekaan. Seyogianya mahasiswa Kristen berperan dalam menentukan sifat dan arah pembangunan demi tanggung jawab atas masa depan bangsa, diibaratkan menjadi terang dalam semua bidang, khususnya bidang-bidang yang besar pengaruhnya atas sifat dan arah pembangunan.Mahasiswa Kristen ditantang untuk memberi kontribusi dalam membangun etos kerja, mengikis struktur-struktur yang korup, memerangi kemiskinan, mengurai proses pembodohan dan mencerdaskan bangsa, membuka jalan kepada dialog peradaban berhadapan dengan globalisasi dan modernitas..Jadi,pada dasarnya, iman Kristen diharapkan menjembatani kesenjangan antara agama dan masyarakat.
Selain itu,sebagai mahasiswa Kristen kita dapat berperan aktif dalam Pelayanan Mahasiswa,karena Pelayanan Mahasiswa adalah pelayanan yang membentuk karakter pribadi tiap mahasiswa,sehingga mampu menciptakan kader-kader handal yang dikemudian hari mampu untuk berkarya dan berbakti dengan integritas yang baik di dalam sistem-sistem birokrasi yang ada Kalau dulu Allah memanggil Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego – mahasiswa-mahasiswa Babel saat itu – untuk memberikan pengaruh besar bagi Babel, tentu bukan tidak mungkin Tuhan sedang mempersiapkan Daniel-Daniel baru, di abad modern ini, untuk menjadi alat kasih Allah melalui Pelayanan Mahasiswa.
6.   PERAN MAHASISWA KRISTEN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN DALAM KRISIS KARAKTER BANGSA
Krisis karakter bangsa merupakan sebuah fenomena yang terjadi pada berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Fenomena yang begitu gencar terdengar dan diberitakan melalui hampir seluruh media massa merambah hampir keseluruh lapisan masyarakat. Tanpa perlu melangkah jauh-jauh, perstiwa-peristiwa yang dapat mewakili corak krisis tersebut pun ada disekitar kita dan begitu dekat.
Krisis karakter bangsa dapat diartikan sebagai kemerostan karakter bangsa. Acuan yang dipakai untuk melihat kadar krisis karakter adalah standar yang berasal dari Allah sendiri. Kondisi karakter yang mengalami krisis adalah ketika kualtias karakter tersebut sangat merosot karena tidak sesuai dengan standar Allah.
Krisis karakter bangsa secara nyata tercermin pada karakter para pemimpin bangsa dan negara, misalnya di Amerika, kita mengenal skandal Water Gate dan perselingkuhan Presiden Clinton; sedangkan apabila kita memperhatikan perjalanan sejarah kepemimpinan di Indonesia, tampak sekali bahwa suksesi pucuk pemimpin negara belum dapat berjalan mulus karena para pemimpin yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat tidak memiliki karakter positif yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemasyarakatan dan agama, seperti melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Lalu, sumbangsi apakah yang dapat kita berikan sebagai mahasiswa Kristen dalam mendorong terciptanya suatu perubahan dan pelepasan diri bangsa dari krisis multidemensi ini? Hal apa saja yang perlu kita persiapkan untuk ambil bagian sebagai agen perubahan? Dan bagaimanakah langkah – langkah yang harus kita tempuh guna mewujudkan kehidupan karakter bangsa yang baik dalam segala aspek kehidupan?
Dalam kondisi krisis seperti yang telah dijabarkan di atas, tidak akan ada satu orang pun yang dapat mengobati dan memulihkan kondisi krisis tersebut. Tidak ada yang bisa merubah karakter siapapun dan kondisi apapun. Apalagi memulihkan krisis karakter bangsa. Ini nampaknya seperti hal yang mustahil, namun sesungguhnya tetap ada yang harus dikerjakan secara khusus oleh mahasiswa Kristen dalam Bangsa ini. Mahasiswa Kristen yang dimaksud disini adalah setiap mahasiswa yang telah mengenal Kristus, dan hidup baru di dalam Nya.
Pertanyaan yang dapat langsung muncul adalah kenapa mahasiswa? Mahasiswa tak diragukan lagi telah banyak berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negeri Indonesia pada umumnya Semboyan ”Student Today, Leader Tomorrow” menunjukkan bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan yang setelah dipersiapkan di dunia kampus akan memberi pengaruh positif dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Kegerakan yang dapat mahasiswa bawa pun bisa berdampak sangat luas, karena kampus sebagai tempat mahasiswa menuntut ilmu adalah sebuah tempat yang strategis. Kampus menjadi gerbang terakhir dalam sebuah jenjang pendidikan formal sangatlah potensial untuk menjadi tempat memperkenalkan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, atau yang disebut sebagai penginjilan. Pada zaman ini setiap pemimpin di bangsa ini akan melewati pintu pendidikan terlebih dahulu. Sehingga apabila pekabaran injil di dalam kampus diabaikan maka ini akan berakibat sangat fatal tentunya. Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan harus dibekali dengan sungguh-sungguh, sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat, mereka membawa pengaruh yang positif.
Peran yang dapat mahasiswa Kristen emban adalah menjadi terang di tengah bangsa. Bagian alkitab yang menjadi pokok acuan adalah dalam Filipi 2:12-16: ”… sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus….”
Bagian ini dengan jelas menjelaskan bahwa setiap mahasiswa Kristen akan hidup di tengah-tengah angkatan yang bengkok hati, dan satu panggilan jelas adalah menjadi terang yang bercahaya dan tetap berpegang pada firman Kehidupan sehingga melalui eksistensi dan hidup kita orang dapat mengenal siapa Allah yang kita sembah.
Ini mendorong kita untuk memikirkan bersama langkah-langkah konkrit yang di ambil sebagai mahasiswa Kristen. Satu bagian Alkitab yang sangat baik untuk dicermati terkait dengan peran konkrit mahasiswa Kristen sebagai terang di tengah Zaman yang bengkok hatinya ini terdapat pada bagian Yesaya 49 – 50. Lembaga Alkitab Indonesia memeberi judul ”Hamba Tuhan sebagai terang di tengah-tengah segala bangsa” serta ”Ketaatan hamba Tuhan”.
Pertama, hidup mejadi terang. Salah satu slogan yang sangat baik adalah ”Lifestyle as an evangelism”. Bagaimana dengan hidup kita orang-orang dapat mengenal Kristus dan memberitakan pembebasan atas perhambaat dosa yang mengikat (Yes 49:9) lewat setiap perkataan dan perbuatan kita (Yes 49:2, 50:4). Menjadi teladanNya yang nyata lewat hidup sehari-hari.
Kedua, terlibat dalam kegerakan pelayanan mahasiswa secara aktif. Ini adalah salah satu langkah strategis, terstruktur, terorganisir dan terkoneksi dengan berbagai kegerakan pelayanan mahasiswa di seluruh dunia. Menghidupi semangat Penginjilan dan Pemuridan. Dua hal utama dalam kegerakan pelayanan mahasiswa yang terbukti telah membawa dampak dalam pembentukan karakter siswa dan mahasiswa yang akan menjadi agen penerus dan pembaharu bangsa.
Ketiga, memaksimalkan setiap kesempatan berharga untuk belajar dan berproses di kampus sehingga menjadi generasi yang unggul di dalam bidang penjurusan masing-masing. Menggumulkan visi hidup di hadapan Tuhan terkait dengan segala talenta, bakat dan minat yang sudah Tuhan berikan, dan dipakai untuk menjangkau jiwa dan memberitakan injil Kristus dalam segala bidang.
Keempat, berani mengambil bagian dalam kancah politik dan pemerintahan sesuai panggilan hidup pribadi di hadapan Tuhan. Terus memperbaharui informasi berita pergerakan bangsa dan kekristenan dan rindu untuk mengambil bagian di dalamnya dan bukan justru anti dan lebih memilih diam untuk aman. Tapi berani menyatakan kebenaran lewat pemerintah yang adalah pengambil keputusan dalam bangsa juga dalam penyusunan berbagai kebijakan dan kurikulum pendidikan bangsa.
Akhirnya, kita dapat mengingat pesan Yesus dalam Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”. Be the light of God in this world.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
Penulis berkesimpulan bahwa sebenarnya mahasiswa Kristen punya peluang besar untuk bisa membawa dampak bagi bangsa ini, berperan dalam masalah krisis karakter bangsa. Kita semua sebagai mahasiswa Kristen harus bersama-sama bersungguh-sungguh bekerja sama memberikan dampak bagi bangsa ini.. Kita harus senantiasa bersyukur pada Tuhan, bertanggung jawab pada segala hal yang diberikan Tuhan. Kita harus senantiasa mempelajari Firman Tuhan dan membagikan kasih karunia Allah kepada orang-orang di sekitar kita. Jika ini kita lakukan, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia mempunyai karakter yang baik, dan bisa lepas dari berbagai pandangan negatif negara-negara lain. Saya membayangkan, akan sangat indah jika Indonesia menjadi negara maju, negara yang bermoral, mempunyai karakter yang baik, dan pada saat bersamaan Kristen juga berkembang pesat di Indonesia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Inilah tantangan bagi kita umat Kristen di Indonesia, khususnya para mahasiswa Kristen. Mampukah? Sekali lagi, bukan masalah mampu atau tidak, melainkan mau atau tidak! Soli Deo Gloria!
Mari berbuat yang terbaik untuk bangsa, karena kemajuan bangsa adalah kebanggaan bangsa tersebut. Mahasiswa Kristen harus menjadi garam dan terang dunia dimanapun berada untuk mewartakan cinta kasih sebagaimana Tuhan Yesus telah ajarkan. Milikilah karakter Ilahi, yang rela melayani sesama tanpa minta dilayani, serta tidak membeda-bedakan dan siap bekerjasama dengan siapa saja.


DAFTAR PUSTAKA
Soedarno, P. 1992. Ilmu Social Dasar Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia pustaka utama.
Russel, Bertrand. 1992. Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat. Jakarta: Gramedia pustaka utama.
Wilar, Abraham Silo. 2010. Ilmu Teknologi Persekutuan Protestan, Dan Pluralitas Bencana Social. Bekasi: pyramida media utama.
Kartodirjo, sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Social Dalam Metodologi Sejarah. Jakaerta: Gramedia Pustaska Utama.



RIWAYAT HIDUP PENULIS

Desi Friska Julia Sianturi lahir 14 februari 1992. Desi anak ke-9 dari 9 bersaudara. Desi  tamatan dari SMA negeri 1. Paranginan Humbang hasundutan, Dolok Sanggul, Sumatera Utara. Desi friska tamat dari SD tahun 2004, tamat SMP tahun 2007, dan tamat SMA tahun 2010. Sekarang Desi melanjutikan kuliah di STTB. Pada waktu masih SD,SMP, Desi pernah meraih juara di dalam kelas. Pada waktu SD, meraih juara 1,2,3 pada waktu kelas 2 sampai kelas 4. Pada masa SMP meraih juara 1,2 pada waktu kelas 2 SMP. Pada masa SMA kelas 2, membuat sebuah makalah yang mnembahas tentang penyakit yang ada dan dialami oleh masyarakat di daerah Paranginan. Itu merupakan tugas yang lumayan susah karena harus mengadakan penelitian langsung ke lapangan untuk membuktikan bahwa penyakit yang dialami oleh masyarakat Paranginan tuidak hanya ada satu macam penyakit. Dan makalah tersebut membantu masyarakat untuk mengatasi dan mengobati penyakit tersebut.

Uce Konstantin Sirituka lahir di Alor, Kupang, Nusa Tenggara Timur lahir pada 21 juli 1982. Uce bekerja di Perkantas selama 8 tahun di bidang kesiswaan. Setelah lama bekerja di bidang kesiswaan Uce ingin melanjutkan studinya, dan sekarang Uce studi di STTB. 

Minggu, 18 Maret 2012

TAFSIR PERJANJIAN LAMA KEJADIAN 6:1-8 KEJAHATAN MANUSIA

TAFSIR KEJADIAN 6:1-8 KEJAHATAN MANUSIA

I.       PENDAHULUAN
Dalam kitab kejadian membahas tentang penciptaan manusia dan alam beserta isinya. Dan juga tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa tetapi walaupun manusia itu telah jatuh ke dalam dosa, Allah menjanjikan keselamatan bagi manusia itu. Pada zaman sekarang kita bisa melihat manusia ciptaan Allah itu makin bertambah banyak, tetapi manusia itu tidak hanya bertambah banyak melainkan manusia itu juga semakin jahat. Hal ini dapat kita lihat dalam kejadian 6:1-8 pada keturunan Kain dan Set. Di mana keturunan dari Kain adalah anak-anak perempuan  manusia, dan keturunan dari Set adalah keturunan yang saleh.
Pada keturunan kain terjadilah masalah kawin-mengawini. Di mana Lamekh adalah orang pertama berpoligami, menunjukkan sikap sombong ia membanggakan dirinyan bisa memusnahkan manusia dengan senjata-senjata yang hebat. Dan juga hal yang menarik dalam silsilah kain adalah di mana Allah sama sekali tidak disebutkan dalam silsilah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam zaman kain adalah di mana manusia itu membuat keputusan dengan keinginan sendiri melewati batasan yang telah Allah berikan. Mereka tidak mendengarkan apa keputusan-keputusan yang Allah berikan.
Dari kejadian ini, kita dapat melihat apakah Allah memang benar-benar menyesal, dan mengapa Allah dikatakan menyesal? Dan pada masa sekarang ini, bagaimanakah perkembangan kejahatan manusia itu? Dalam makalah ini, penulis membahas tentang kejahatan manusia dalam kejadian 6:1-8. Dimana, manusia itu makin bertambah banyak dan berkembang, tetapi manusia juga semakin jahat, sehingga Allah menyesal dan ingin memusnahkan semua umat manusia itu, tetapi seorang yang berkenan di hadapan Allah mendapatkan kasih karunia yaitu Nuh. Allah tidak akan memusnahkan semua umat manusia, karena ketika Allah menciptakan manusia Allah berfirman bahwa Allah menyuruh manusia itu memenuhi bumi. Melalui hal tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah setia pada janji-Nya yang telah diberikan-Nya sejak penciptaan kepada manusia. Di mana perjanjian Allah sejak pertama ditetapkan dengan Nuh sebagai wakil manusia berikutnya.[1]

II.    LATAR BELAKANG KITAB
Analisis historis
Kejadian 6:1-8 merupakan peralihan yang menjelaskan keadaan manusia sebelum dihancurkan dan diberikan bentuk kembali oleh air bah. Manusia bertambah bejat, maka Allah bermaksud memusnahkan keturunan Kain. Hanya keturunan Set yang akan diteruskan melalui keluarga seorang yang bergaul dengan Allah. Masalah kawin-mengawini merupakan kebencian di hadapan Allah. Ukuran beratnya ialah pernyataan murka Allah, air bah sebagai penghukuman terberat yang pernah dijatuhkan atas manusia.[2]
Kejahatan manusia itu dapat kita lihat pada keturuna-keturuna Kain, dan juga pada Kain sendiri. Di mana Kain membunuh saudaranya Habel karena irihati. Dan pada keturunan Kain, di mana Lamekh berpoligami, dan Allah membenci masalah kawin-mengawini khususnya mengambil isteri dua sesuai kehendak hati manusia itu sendiri dan siapa saja yang mereka sukai. Dari kejadian ini dapat kita lihat bahwa manusia itu melanggar batasan-batasan yang telah Allah tetapkan untuk mereka.
Kemerosotan moral manusia yang jelas kelihatan dalam kejadian , yang diilustrasikan oleh Kain dan Lamekh, mencapai puncaknya dalam kejadian 6. Sewaktu manusia bertambah banyak dan berkembang, begitu pula dengan kejahatan manusia. Kecenderungan manusia menjadi begitu jahat sehingga Allah harus menghakimi mereka, dan Ia melakukannya dalam air bah besar. Sifat dan luasnya pengadilan Allah selalu mencerminkan beratnya dosa yang sedang  dihukum dan air bah itu memusnahkan seluruh hidup manusia, kecuali keluarga Nuh. Allah melihat bahwa dosa umat manusia sebelum air bah begitu jahatnya sehingga hanya pemusnahan yang hampir total yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya yang suci.[3]

III. ISI
Kejadian 6:1-2,”Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.”
ü  Anak-anak Allah dan anak-anak perempuan
Dalam ayat ini, sebuah teori mengatakan bahwa anak-anak Allah (~yhil{a/h'(-ynEb.))), berarti malaikat, tetapi penafsir ini salah. Penafsir ini menafsirkan idak sesuai dengan kecenderungan pada zaman sekarang. Kecenderungan pada zaman ini adalah dosa dan kejahatan manusia (bukan dosa dan kejahatam malaikat) dibiarkan sehingga perkembangannya berkembang dengan sangat cepat. Jika teori tentang malaikat yang benar, sejarah perkembangan dosa dan kejahatan bukanlah sjarah manusia tetapi menjadi sejarah malaikat.[4]
            Teolog-teolog mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah malaikat, di mana mereka melihat sama seperti Sodom dan gomora dan kota-kota sedkitarnya yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar keputusan-keputusan yang tidak wajar. Menurut teori mereka, melihat bahwa penduduk kota melakukan percabulan dan mengejar keputusan-keputusan yang tidak wajar seperti malaikat-malaikat. Dan keputusan yang tidak wajar itu merupakan tubuh yang lain, akan tetapi malaikat tidak bertubuh dan karena itu istilah tubuh yang lain tidak dipakai untuk malaikat. Tidak hanya demikian mengambil istri, berarti menjadikan istri dan hidup bersama sampai kekal, tidak berarti hanya melakukan percabulan hanya sekali. Dari pandangan ini mengatakan bahwa malaikat berkeluarga dan hidup kekal tidak sesuai dengan Firman Allah. Oleh karena itu, anak Allah yang berarti orang-orang percaya yang takut akan Allah. Dan anak-anak perempuan adalah anak-anak perempuan yang tidak percaya, yang tidak kudus pada waktu itu.[5]
Penafsir yang lain mengatakan bahwa anak Allah yang dikatakan dalam ayat ini seolah-olah keturunan Set yang saleh, yang pada waktu itu mulai menikah dengan perempuan dari keturunan orang-orang yang tidak beribadah. Hal ini membuat mencainya kemurnian keturunan umat Allah.[6] Tetapi beberapa penafsir tidak setuju dengan pendapat ini, melainkan mereka setuju bahwa anak Allah tersebut adalah malaikat. Di mana beberapa malaikat itu meninggalkan tempat kediamannya yang sesungguhnya dan mereka mengambil anak perempuan dari manusia.
Dari penafsiran lainnya juga ada yang mengatakan bahwa anak Allah itu adalah keturunan Set dan putrid-putri manusia itu adalah keturuna Kain. Tetapi, ada juga yang keberatan dengan penafsiran ini, di mana manusia dalam kejadian 6:1 itu adalah dalam ati umum dan yang pada ayat 2 adalah dalam arti khusus yaitu Set dan Kain. Dan ada juga yang mengatakan bahwa anak Allah itu adalah dinasti yang memerintah pada waktu itu, dan anak perempuan itu adalah keturunan dari harem istana.[7]
Pada ayat 1-2 ini mulai dengan menjelaskan relasi antara Set dan Kain. Pada zaman Nuh orang menikah sesuka hatinya tanpa menghiraukan ketetapan Allah yang membedakan antara keturunan Kain dengan keturunan Set. Masalah yang sama kemudian muncul dalam sejarah Israel dan menjadi dasar utama teguran yang Allah berikan melalui nabi Maleakhi.
Anak-anak perempuan manusia dikontraskan dengan anak-anak lelaki Allah. Pengertian ini dapat dimengerti berdasarkan pasal-pasal sebelumnya, di mana keturuna Kain diperkenalkan kepada kita hanya dari sudut daya kreasinya yang luar biasa dan keturunan Set tentunya sama kreatifnya tetapi diperkenalkan melalui kriteria khusus, yaitu hubungannya dengan Allah. Keturunan Set melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik, maka diambilnya menjadi istrinya.[8]
            Kejadian 6:3,” Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."
ü  Roh-Ku tidak akan tinggal selama-lamanya di dalam manusia
Roh-Ku tidak akan selamanya tinggal di dalam manusia,berarti pekerjaan Allah member hidup kepada manusia dan akan meninggalkannya. Hal itu menunjukkan bahwa manusia di atas bumi akan binasa oleh air bah. Karena manusia itu adalah daging dapat diterjemahkan di mana manusia menjadi daging dalam hal berdosa. Daging berarti keebusukan manusia, umurnya akan seratus dua puluh tahun saja, bukan berarti umur manusia itu yang seratus dua puluh tahun, tetapi maksudnya adalah setelah seratus dua pulu tahun kemudian aka nada penghakiman air bah.[9]
Kejadian 6:4,” Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.”
ü  Orang-Orang Raksasa
Beberapa orang menerjemahkan bahwa orang-orang raksasa itu adalah penyerang-penyerang atau penguasa-penguasa lalim. Dan juga ada yang menafsirkan bahwa orang-orang raksasa itu merupakan iblis seperti dalam kita Ayub, yaitu musuh yang terbelenggu di mana Allah tetap memegang kuasa.
Seorang penafsir mengatakan bahwa orang-orang raksasa itu adalah anak-anak yang lahir dari hubungan anak perempuan keturunan Kain dengan anak lelaki keturunan Set.[10]
Kejadian 6:5,” Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”
ü  Kejahatan manusia besar
Ayat ini mengajarkan bahwa anak-anak Allah yaitu keturunan Set yang kudus menjadi bobrok karena saling mengawini dengan keturunan Kain yang tidak mengenal Allah. Dalam ayat ini mengatakan bahwa kejahatan manusia itun besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Hal itu dijelaskan dengan memberikan penekanan pada dosa dan kejahatan hati yang tidak kelihatan.[11]
Kejadian 6:6,” maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”
ü  Menyesallah Tuhan
Sebenarnya Allah tidak menyesal tetapi ini merupakan ungkapan secara anthropomorphisme untuk menunjukkan bahwa kepiluan hati Allah sangat dalam karena kebobrokan manusia.[12] Allah menyesal sama dengan kata kesakitan yang akan dialami oleh Hawa saat melahirkan. Juga
Kata Allah menyesal dalam kejadian 6:6 merupakan ungkapan disebabkan keternatasan bahasa. Di mana kita tahu bahwa Allah sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum manusia itu  diciptakan karena Ia adalah Mahatahu. Sebelum bumi diciptakan, Ia sudah menetapkan rencana agung-Nya. Istilah menyesal itu hanya sekadar mengungkakan ketidaksetujuan Allah atas kebobrokan manusia, dan tidaklah berarti bahwa Allah kaget melihat apa yang terjadi pada manusia itu.
Kejadian 6:7-8,” Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.”
Allah berfirman bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari bumi ini, namun tidak semuanyam manusia itu dimusnahkan. Hal itu terjadi karena kalau Allah memusnahkan semua manusia itu maka rencana Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa akan gagal. Menurut ayat 8 Allah menyelamatkan seorang yang berkenaan kepada-Nya yaitu Nuh seorang yang tulus hati dan jujur dalam generasinya.[13] Hal itu merupakan penyataan kasih karunia Allah kepada manusia. Di mana seolah-olah penyelamatan kepada Nuh dalam peristiwa ini menggambarkan penyelamatan Yesus Kristus.

IV. APLIKASI TEOLOGIS PADA MASA SEKARANG
Dari beberapa penjelasan-penjelasan di pada bab sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa kasih Allah kepada manusia berdosa tidak pernah berkesudahan. Di mana dapat kita lihat kasih karunia yang Allah berikan kepada Nuh ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia itu karena kejahatan manusia. Kejahatan manusia yang dalam kejadian 6 ini dapat kita lihat ketika anak-anak Allah itu mengambil anak perempuan manusia dan menjadikannya isterinya. Di mana anak-anak Allah melihat anak perempuan manusia itu cantik lalu mengambil mereka menjadi isterinya sesuka hati mereka.
Hal-hal seperti ini dapat kita lihat dalam kehidupan manusia, tetapi bukan dalam wujud seperti yang terjadi dalam kejadian 6 ini lagi. Di mana dalam kejadian 6 Allah berencana memusnahkan manusia itu, dengan mendatangkan air bah karena kejahatannya. Pada masa kini dapat kita lihat bahwa manusia masih ada yang melakukan segala sesuatunya sesuai keinginan mereka tanpa mendengarkan apa keputusan Allah untuk mereka lakukan. Dapat kita lihat pada manusia sekarang yaitu dalam pemerintahan, di mana manusia memerintah sesuka hatinya dan bahkan banyak yang menindas orang-orang bawahannya. Mereka melakukan sesuai apa yang merek lihat dan hal itu merupakan suatu hal yang Allah benci.
Melalui perikop ini dapat kita ketahui bahwa Allah adalah Allah yang setia pada janjinya dimana ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia, Dia memberikan kasih karunia kepada seorang yang berkenaan kepada-Nya. Nuh mendapatkan kasih karunia Allah sehingga ia diselamatkan dari air bah yang memusnahkan manusia. Allah setia pada janji-Nya yang diberikan-Nya kepada manusia pertama yang Dia ciptakan yaitu Adam dan Hawa. Di mana kita mengetahui bahwa Allah berjanji kepada manusia itu untuk memenuhi bumi. Dan juga Allah menjanjikan keselamatan bagi manusia itu akibat dosanya.
Dalam perikop ini, janji Allah itu digenapi dalam diri Nuh, di mana Nuh diselamatkan dari air bah yang memusnahkan manusia. Dan apabila tidak ada manusia yang diselamatkan dari penghukuman air bah tersebut maka gagallah Allah kita Yang Mahatahu dan Mahakuasa. Dan pada masa sekarang dapat kita lihat, bahwa janji Allah itu digenapi dalam diri Yesus Kristu. Di mana Yesus menyelamatkan manusia dari dosa. Hal ini dapat kita lihat bahwa Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal ke dunia dan mati di kayu salib karena dosa-dosa manusia.
Melalui perikop ini juga dapat kita ketahui suatu hal yang sangat penting, yaitu di mana hubungan Allah dengan Nuh adalah suatu hubungan keakarban antara manusia dengan Allah. Dan hubungan keakraban Allah dengan manusia itu dapat kita lihat dalam kehidupan manusia melalui hubungan pribadi. Di mana manusia itu bersekutu dengan Allah secara pribadi tetapi pada masa kini dapat kita lihat hubungan keakraban itu semakin hilang. Hubungan keakraban manusia itu semakin hilang karena dapat kita lihat dalam kehidupan masa sekarang banyak yang poligami seperti Lamekh. Hal ini merupakansuatu hal yang Allah benci. Dan juga hilangnya keakraban manusia dengan Allah menimbulkan manusia kehilangan kerohanian. Hal ini dapat kita lihat melalui tulisan-tulisan mistik yang semakin meningkat.
Melalui perikop ini, dalam kehidupan kita di zaman sekarang ini, kita dapat melihat bahwa tidak salah bila kita disebut hidup dalam zaman anugerah. Yesus Kristus telah menyatakan kebenciannya terhadap dosa dan sekaligus besarnya kasih Allah kepada manusia melalui pengorbanan diriNya di kayu salib menebus manusia dari hukuman dosa. Kebenaran ini memang sangat indah dan patut untuk disyukuri, tetapi bukan membuat manusia menjadi lengah terhadap pengaruh dosa dengan dalih bahwa kita mempunyai Allah yang kasih, yang mau mengampuni setiap pelanggaran kita.

V.    KESIMPULAN
Dari kejadian 6:1-8 ini dapat kita ketahui bahwa manusia itu bertambah banyak dan melahirkan anak-anak perempuan dan ketika anak-anak Allah melihatnya maka mereka mengambilnya menjadi istrinya, sesuai kehendak mereka sendiri. Katika manusia itu semakin jahat, Allah berencana untuk memusnahkan mereka, tetapi hal itu tidak terjadi karena jika demikian maka Allah Yang Makatahu dan Mahakuasa akan gagal. Tetapi seorang yang berkenaan kepada-Nya mendapatkan kasih karunia.
Allah yang kita kenal dari perikop ini adalah Allah yang setia pada janji-Nya, di mana Dia berjanji pada nenek-moyang Israel yaitu manusia pertsama yang Ia ciptakan bahwa manusia itu akan memenuhi bumi. Dan ketika manusia itu semakin jahat, dan jatuh ke dalam dosa maka Allah menjanjikan keselamatan. Dan hal itu dapat kita lihat dalam Nuh. Di mana, ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia itu dari bumi karena kejahatannya, Allah memberikan kasih karunia kepada Nuh. Sehingga Nuh dan keluarganya diselamatkan karena anugerah Allah. Dan pada masa sekarang ini, dapat kita lihat bahwa janji Allah itu digenapi dalam diri Yesus Kristus di mana Yesus memberikan keselamatan bagi manusia berosa. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia. Di mana Yesus Kristus rela mati di kayu salib demi menebus manusia berdosa.


DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, David. 2000. Seri Pemahaman Dan Penerapan Amanat Alkitab Masa Kini Kejadian 1-11 Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
Davis, John J. 2001. Eksposisi Kitab Kejadian, Suatu Telaah. Malang: Gandum Mas.
Green, Denis. 2008. Pembimbing Pada Pengenalan Pengenalan Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.
Heath, W. Stanley. 1998. Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman. Yogyakarta: Yayasan Andi.
Lasor,  W.S. dkk, 1993. Pengantar Perjanjian Lama 1 Taurat Dalam Sejarah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Park, Rev. Yune Sun. 2002. Tafsiran Kitab Kejadian. Jawa Timur: Literatur YPPII.
Sagala, Herlise Y. 2011. Tafsir Torah. Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung.


[1]Denis Green, pembimbing Pada Pengenalan Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2008), Hal 49.
[2] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman, (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1998), Hal 65.
[3] John J. Davis, Eksposisi Kitab Kejadian, Suatu Telaah, (Malang: Gandum Mas, 2001),Hal 113.
[4] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian, (Jawa Timur: Literatur YPPII,2002), hal 50.
[5] Ibid, hal 50.
[6]David Atkinson, Seri Pemahaman Dan Penerapan Amanat Alkitab Masa Kini Kejadian 1-11 Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern,(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2000) , Hal 158.
[7] Herlise Y. Sagala, Tafsir Torah, (Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, 2011), hal 38.
[8] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman,, hal 66.
[9] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian, Hal 51.
[10] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman, hal 67.
[11] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian,Hal 15.
[12] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian,Hal 15.
[13] W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 1 Taurat Dalam Sejarah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993),Hal 130.