Senin, 19 Maret 2012

KONSEP LOGOS MENURUT INJIL YOHANES 1:1-18


I. Pendahuluan
Kata logos adalah istilah filsafat yang mengandung arti yang sangat luas dan filosofis dalam dunia yunani. Jauh sebelum Rasul Yohanes menuliskan injilnya, sudah banyak yang memakai kata ini dalam dunia filsafat dan dalam agama serta alam semesta. Tetapi konsep logos ini sangat berbeda-beda ditafsir oleh banyak orang yang salah satunya adalah rasul Yohanes. Ada beberapa alasan penulis membahas mengenai konsep logos dalam Injil Yohanes, yaitu, pada zaman Yohanes, kata logos (firman) dipakai oleh begitu banyak orang, dengan begitu banyak arti, sehingga artinya menjadi sangat luas. Kata logos menunjuk pada apa yang diekspresikan manusia, sehingga diterjemahkan “kata”, “ucapan”, “pesan”, atau “firman”, tetapi kata firman juga dapat menunjuk pada apa yang menetap dalam pikiran manusia, sehingga diterjemahkan “pikiran”, “akal”, atau “logika”. Karena itu, menarik untuk mengkaji konsep logos dalam Injil Yohanes.
Penulis memilih Injil Yohanes karena melihat Injil Yohanes memiliki keunikan sendiri dibandingkan ketiga Injil lainnya. Di mana Injil Yohanes langsung menekankan pentingnya identitas Yesus sebagai Allah dan manusia serta karya-Nya untuk dunia. Selain itu penulis juga melihat bahwa Injil Yohanes memiliki pendekatan tersendiri dalam menjelaskan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah. Injil Yohanes sepertinya lebih bersifat kontekstual, hal itu terlihat dari pemakaian istilah logos yang dipakai dalam prolognya. Selain itu, istilah logos muncul 128 kali dalam Injil. Istilah ini muncul 40 kali dalam Yohanes, 32 kali dalam Matius, 23 kali dalam Markus dan 32 kali dalam Lukas. Terlihat penggunaan istilah logos lebih dominan dalam Injil Yohanes dibanding tiga Injil lainnya. Jumlah yang dominan ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai konsep logos dalam Injil Yohanes adalah perlu.
Dalam paper ini, penulis menjelaskan bagaimana pandangan-pandangan orang Yahudi, Yunani, dan juga pandangan Yohanes terhadap logos. Dan bagaimana persamaan pandangan orang yunani dan yahudi terhadap logos?

II.    Pandangan-Pandangan Terhadap Logos
Kata logos berasal dari bahasa Yunani yang artinya perkataan atau kata.[1] Dalam injil Yohanes Konsep logos dapat kita ketahui dari beberapa pandangan yang diuraikan oleh beberapa pandangan umum yaitu menurut pandangan orang Yunani, yahudi, menurut pandangan Rasul Yohanes, dan juga menurut pandangan orang Kristen. Berikut adalah penjelasan dari pandangan- pandangan tersebut.

Logos Menurut Pandangan Yunani
Ada banyak pandangan ajaran Filsafat Yunani mengenai konsep logos, namun dalam bagian ini penulis hanya membahas dua pandangan, yaitu Heraclitus dan Stoa. Penulis memilih kedua pandangan ini karena penulis melihat adanya kesejajaran pemikiran Heraclitus dan Stoa yang sangat menekankan bahwa logos hanyalah suatu akal yang bersifat ilahi yang mengatur dunia dan bukanlah suatu pribadi.

Menurut Pandangan Heraclitus
Sekitar tahun 500 BC seorang filsuf yang bernama Heraclitus menjadi filsuf pertama yang mengembangkan kata Firman. Ide dasar Heraclitus adalah bahwa segala sesuatu ada di dalam keadaan berubah-ubah.[2] Namun perubahan itu bukanlah suatu kebetulan, semua perubahan itu terkemudikan dan diatur, mengikuti pola yang terus-menerus sepanjang waktu. Dan yang mengendalikan pola tersebut adalah logos, firman dan nalar atau pikiran Allah.[3] Bagi Heraclitus, logos adalah dasar keteraturan yang menyebabkan alam semesta ini tetap ada, dan hanya logos itulah yang tidak berubah. Bagi Heraclitus, logos selalu ada dan segala sesuatu terjadi melalui logos ini. Menurutnya di dunia ada suatu ‘akal’ atau ‘pikiran’ yang bekerja secara ilahi, yaitu logos ilahi atau akal Allah sendiri yang mutlak dalam ekspresi diri-Nya, namun tidak berpribadi. Logos adalah ‘ekspresi’ dari Yang Maha Tinggi, di mana ia memperkenalkan dirinya sendiri dalam dunia dengan ‘percikan kecil’ dan ‘terbatas’ dalam apa yang disebut ‘prinsip spermatikos logos’ pada tiap-tiap manusia. Prinsip logos seperti inilah yang membuat keteraturan dunia, sehingga tidak kacau. Baginya Firman adalah akal ilahi, atau rencana ilahi yang mengatur semesta alam.[4]

Menurut Pandangan Stoa
Stoa mengembangkan doktrin Heraclitus. Kemudian Stoa memahami logos sebagai prinsip rasional dari segala sesuatu yang hidup, dan pokok dari rasional jiwa manusia. Para pengikut Stoa selalu terpukau akan keteraturan dunia. Menurut mereka segala sesuatu dikendalikan oleh logos Allah.[5] Logos adalah kekuatan yang memberikan makna kepada dunia; kekuatan yang membuat dunia menjadi teratur; kekuatan yang menggerakkan dunia dan membuatnya tetap bergerak dalam keteraturannya yang sempurna. Logos menembus segala sesuatu.[6] Kaum Stoa memahami Firman dengan istilah ‘logos universal’ yang merupakan ‘kuasa’ melalui ‘hukum’ yang mengatur semua benda, musim, bintang dan keteraturan tatanannya. Manusia wajib hidup sesuai dengan hukum kosmopolitan yang sudah diatur oleh logos tersebut, yang kemudian dapat diidentifikasikan sebagai ‘terang ilahi’ dalam dunia ini. Jadi, bagi kaum Stoa kata logos menunjuk pada prinsip akal yang olehnya segala sesuatu berada, dan yang merupakan inti dari akal manusia.[7]

Logos Menurut Pandangan Yahudi
Bagi orang Yahudi yang berlatar- belakang dari perjanjian lama, logos diartikan sebagai berikut:[8]
1.      Logos adalah “hikmat”, yaitu hikmat yang dipersonifikasikan (Amsal 8:22-31). Di mana hikmat telah ada bersama dengan Allah sebelum segala sesuatunya diciptakan Allah bahkan hikmat ini dikatakan sebagai pencipta dan mempunyai relasi yang intim dengan Allah. Konsep logos dalam injil yohanes berakar dalam perjajian lama, dan mengandung arti hikmat dan kuasa dan yang mempunyai hubungan dengan Allah.
2.      Logos adalah kuasa, di mana dikatakan bahwa Firman Tuhan langit telah dijadikan, dan Firman itu keluar dari mulut Allah, dan Firman itu berkuasa.

 Menurut Pandangan Philo
   Philo(20BC-50AD), seorang Yahudi di Alexandria, sangat gemar dan luas sekali dalam memakai istilah logos. Ia menggabungkan pemikiran Perjanjian lama dan filsafat sebagai The second God atau God in action. Ia melihan logos sebagai perantara antara Allah yang transenden dengan dunia materi yang nyata.[9] Bagi Philo, logos mengindikasikan pengertian Platonik yaitu ‘dunia ideal untuk mengkopi dunia nyata ini’. Di mana logos juga adalah ‘manusia asli’ yang ideal, yaitu ‘gambar Allah’ sendiri dan pikiran logos adalah pikiran Allah. Dan berdasarkan Stoikisme, logos adalah ‘prinsip rasional’ dari dunia yang berdimensi dua: akal (reason) dan kata (word). Kedua pemikiran Yunani ini bercampur dalam pemahaman Philo tentang logos. Namun bagi pemikiran helenistik, logos adalah ‘Theos’ tetapi bukan ‘ho Theos’, jadi kesempurnaan atau keilahiannya tidak lengkap sehingga logos dalam pemikiran Philo adalah ‘tempat manifestasi’ Allah sendiri dan logos dapat ‘dipersonifikasikan’ menjadi seseorang, tetapi tidak berarti berpribadi dan posisinya sebagai ‘Allah bawahan’. Dengan kata lain bagi Philo, kata firman dapat menunjuk pada manusia yang ideal, tetapi manusia yang ideal itu tidak menjelma menjadi manusia yang sejati.[10] Philo berpendapat bahwa logos adalah hal yang tertua di dunia dan merupakan alat yang dipakai oleh Allah untuk menciptakan dunia. Philo berpendapat bahwa logos adalah pikiran Allah yang dimateraikan ke atas alam semesta. Philo berbicara tentang logos yang dipakai Allah menciptakan dunia dan segala sesuatu. Philo mengatakan bahwa Allah, sang pengendali alam semesta, memegang logos itu seperti seorang pembajak sawah dan dengan logos itu, Ia mengemudikan segala sesuatu. Philo juga mengatakan, bahwa pikiran manusia telah dimateraikan dengan logos, dan bahwa logos itu memberi manusia nalar, kemampuan untuk berpikir dan kemampuan untuk mengetahui sesuatu. Logos adalah pengantara antara dunia dan Allah dan bahwa logos adalah iman yang memperhadapkan jiwa kepada Allah. Konsep logos digunakan oleh Philo dalam berbagai implikasi untuk menjadi konsep tentang satu pengantara antara Allah yang transenden dengan alam semesta, satu kuasa aktif yang langsung dalam penciptaan dan pewahyuan. 

Logos Menurut Pandangan Rasul Yohanes
Injil Yohanes sangat berbeda dengan injil lain dan dengan para filsuf lain dalam menafsirkan logos, dan dalam injil ini, Yohanes memulai dengan sebuah pernyataan yang luar biasa mengenai Yesus Kristus.[11]  Rasul Yohanes menuliskan pandangannya terhadap logos melalui  pengaruh dari beberapa pandangan yang telah ada sebelumnya, yaitu melalui latar belakang Yahudi maupun Yunani. Hal ini mempermudah pembaca untuk mengerti tentang konsep logos baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dalam penulisan ini, Rasul Yohanes dipimpin oleh Roh Kudus untuk menggunakan konsep yang ada pada waktu itu untuk menyatakan maksud Allah kepada manusia, yang pada akhirnya menyatakan Allah sendiri kepada manusia. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Rasul Yohanes mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah bukan hanya sekadar hikmat, kuasa atau reason seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi.
 Dalam injil Yohanes, menyebutkan hanya empat kali bahwa logos itu adalah Yesus. Menurut yohanes nama itu memiliki arti yang sangat penting. Arti dari kata ini sangat sulit ditentukan. Yohanes mengawali Injilnya dengan menyebut Yesus “Firman itu” (Yun. Logos). Dengan menggunakan istilah ini bagi Kristus, Yohanes memeperkenalkan-Nya sebagai Sabda Allah yang pribadi dan menunjukkan bahwa pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada manusia melalui Anak-Nya (Ibrani 1:1-3).
Tujuan penulisan Injil Yohanes yaitu “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31) juga dibahas dalam Yoh. 1:1-18. Namun dalam Yohanes memakai kata Logos untuk identitas Allah yang berinkarnasi dalam diri Yesus. Dalam injil Yohanes ada tiga pernyataan yang mengungkapkan Kristologi Logos:
(a)    Logos adalah Allah yang kekal (1:1),
Kata logos yang ada dalam Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Kristus adalah Firman yang kekal. Dapat kita lihar dalam bahasa aslinya bahasa Yunani di mana dalam bahasa Yunani dikatakan:
En avrch/| h=n o` lo,goj( kai. o` lo,goj h=n pro.j to.n qeo,n( kai. qeo.j h=n o` lo,gojÅ
Kata logos pada ayat ini merupakan suatu ungkapan, di mana melalui kata-kata kita ungkapkan kata-kata kita sehingga kata logos yang ada dalam ayat ini adalah Firman Allah yang berarti Tuhan yang mengungkapkan diri-Nya sendiri, dengan cara yang dapat didengar dan dimengerti oleh manusia. Kristus bukan hanya pernyataan Allah, tetapi Ia selalu tetap tidak lain daripada Allah sendiri.[12]
(b)   Logos adalah terang (1:4-5),
Kata terang di sini berkaitan dengan ayat sebelumnya. Karena kristus yang menciptakan sebaga sesuatu, pastilah Ia merupakan pancaran hidup. Dialah pemberi hidup. Seperti kata terang in I dapa kita lihat dalam bahasa Yunani, yaitu
evn auvtw/| zwh. h=n( kai. h` zwh. h=n to. fw/j tw/n avnqrw,pwn\
kai. to. fw/j evn th/| skoti,a| fai,nei( kai. h` skoti,a auvto. ouv kate,labenÅ
Kata terang dalam ayat ini adalah merupakan salah satu gelar Yesus. Artinya adalah dimana Allah adalah terang manusia. Yang dibicarakan di sini adalah hubungan antara Allah dengan manusia. Terang inilah yang akan menerang semua orang yang ada di dunia.dan terang itu akan bercahaya dalam kegelapan dan hal ini memberikan gelar ilahi lain bagi Kristus.[13] Melalui hal ini dapat kita ketahui bahwa tersang itu adalah Allah.
(c) Logos adalah Yesus yang menjelma menjadi manusia (1:14-18).
Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah ada bersama dengan Allah. Ia selalu hidup dan Dia sendiri adalah Allah. Allah telah menjadi manusia sehingga logos dalam injil Yohanes telah menjadi manusia.[14] Dapat kita lihat logos dalam bahasa aslinya:
Kai. o` lo,goj sa.rx evge,neto kai. evskh,nwsen evn h`mi/n( kai. evqeasa,meqa th.n do,xan auvtou/( do,xan w`j monogenou/j para. patro,j( plh,rhj ca,ritoj kai. avlhqei,ajÅ
Dalam ayat yang ke-14 ini dapat kita ketahui bahwa logos itu telah menjadi manusia. Dan logos yang telah menjadi manusia itu dapat kita lihat dalam diri bahwa Juruselamat sendiri yang menjadi manusia. Ia menjadi manusia sempurna yang tidak berdosa, tanpa salah, tanpa noda. Dia adalah manusia yang sempurna. [15]

III. Persamaan Konsep Logos Menurut Orang Yunani Dengan Yahudi
Secara ringkas bagi orang Yahudi, logos adalah maha kuasa dan dunia diciptakan oleh logos. Bagi Yunani dunia dipelihara oleh logos karena logos mempunyai prinsip yang rasional. Namun, nampaknya baik Yahudi maupun Yunani mempunyai banyak persamaan dan sama-sama setuju bahwa logos adalah:[16]
1.      Sebagai awal mula dari segala yang ada. Hal ini dapat kita lihat dari pandangan Yohanes, di mana dia menulis bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada  sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dan dengan jelas dapat kita lihat melalui injilnya, Yohanes mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia melalui logos.
2.      Mempunyai unsur kekuatan yang mengatur alam semesta. Di mana logos tidak pernah berubah walaupun dunia berubah, sehingga logos inilah yang akan mengatur, menjaga bumi, alam semesta ini. logos dianggap sebagai jiwa dunia, dan ternyata masih banyak yang masih malu-malu mengatakan bahwa logos adalah Allah. Tetapi dengan tegas Rasul Paulus mengatakan bahwa logos (Firman) itu adalah Allah.
3.      Merupakan pernyataan Diri Allah atau God’s self-expression. Logos merupakan dunia Allah yang disebut logos endiatheos. Tetapi pada saat yang sama logos juga menyatakan diri dan sifat Allah melalui perkataan, atau yang disebut logos prophorikos. Namun, di sini Rasul Yohanes dengan tegas mengatakan bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi anak tunggal allah yaitu logos, Dialah yang menyatakan-Nya. Inilah yang merupakan kelebihan penting konsep logos Rasul Yohanes.
Menurut filsafat Yunani dan Yahudi, tidak ada penjelasan yang memuaskan tentang logos, sehingga banyak orang yang mencari latar-belakang dari filsafat Yunani dan Yahudi. Sebab di dalam pikiran kebudayaan mereka bahwa kata Firman itu memainkan peranan yang cukup penting, khususnya dalam rangka teologi Yahudi mengenai kebijaksanaan. Lebih khusus lagi dalam kata “gnosis” sebagai latar-belakang untuk kata firman pada Yohanes. Tetapi mengenai gnosis itu sendiri dapat dinyatakan sejauh mana aliran ini berkembang dari atau paling sedikit sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yahudi. Tambah lagi bahwa dalam gnosis kata firman pasti tidak memainkan peranan yang sentral. Dari hal ini kita tahu bahwa pemikiran ini ntidak mungkin mempengaruhi alam pikiran Yohanes. Tetapi. Dengan latar-belakang itu akhirnya tidak diperoleh keterangan yang jelas mengenai arti kata firman, sehingga Yohanes membuat konteks sendiri terhadap logos.[17]

IV. Makna Teologis Logos Pada Masa Kini
Dari beberapa pandangan yang telah dipaparkan penulis diatas, kita dapat melihat makna teologis yang dari logos tersebut pada masa kini. Teologi logos merupakan hal yang sangat penting di dalam kekristenan di sepanjang zaman, karena inkarnasi logos merupakan titik awal penebusan Kristus di dunia. Logos telah menjadi manusia yang digenapi dalam diri Yesus Kristus.
Pada zaman Yohanes semua gologan pembaca dapat mengerti dengan konsep logos yang ditulis oleh Rasul Yohanes, di mana dia menuliskannya berdasarkan wahyu, dan logos mempunyai ciri yang unik yaitu di mana logos adalah Anak Allah, yang berinkarnasi dalam rangka memperkenalkan Allah sepenuhnya.[18] Firman itu telah ada sejak kekekalan dan sekarang telah menjadi manusia dan Yohanes memberitakan kemuliaan-Nya. Wahyu tentang terang inilah yang dijabarkan oleh Yohanes dalam injilnya. Yohanes memberikan sebuah ringkasan dari teologinya di pendahuluan dan diinjilnya, di mana di dalamnya ia menjabarkan wakyu tentang hidup dan terang melalui sang Putra dan juga menjabarkan dosa yang menggelapi Dunia dan menolak terang itu.[19]

V.    Kesimpulan
Melalui pemaparan di atas tentang pandangan-pandangan tewrhadap logos, logos yang dimaksud dalam injil Yohanes menunjuk pada diri Yesus sebagai Allah dan manusia. Tema logos dalam Yohanes yaitu “Firman adalah Allah yang menjadi manusia” diarahkan untuk menyaksikan fakta Yesus sebagai “Anak Allah” dan “Mesias” yang dijanjikan dengan segala perbuatan-Nya, supaya manusia dapat mengenal Dia sebagai Perantara sejati untuk keselamatan. Memang kediaman-Nya sebagai manusia di dunia, tetapi itu hanya untuk sementara saja. Namun waktu yang sementara ini dipakai-Nya untuk membuktikan secara langsung kasih dan anugerah-Nya yang begitu besar kepada manusia. Karena logos datang ke dunia dan menjadi manusia hanya untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya. Sehingga dengan demikian manusia bisa benar-benar percaya bahwa Dialah Mesias, Anak Allah yang membebaskan. Inkarnasi logos menjadi Yesus, inilah hal yang ingin ditekankan oleh Yohanes.















DARTAR PUSTAKA
Calrk, Gordon H. 1989. The Johannine Logos. Maryland: The Trinity Foundation.            
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi sistematik 1 Allah Penyelamat. Semarang:Kanisius.
Enns, Paul. 2008. The Moody Handbook of Theology (Buku Pegangan Teologi). Malang: Literature Saat.
Habalberg, Dave. 1999. Tafsiran Injil Yohanes 1-5 Dari Bahasa Yunani Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini. Yogyakarta: Yayasan Andi.
Jacobs, Tom.  2000. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
Pink,  A.W. 1945. Tafsiran Injil Yohanes. Surabaya: Yakin.
Preiffer, Charles F. 2008. The Widiffe Bible Commentary (Tafsiran Alkitab Widiffe)Volume 3 Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas.
Santoso, David Iman . 2005. Theologi Yohanes Intisari Dan Aplikasinya. Malang: Literature Saat.
Soehardjo, dkk. 1977. Firman Allah yang Hidup Perjanjian Baru Dalam Bahasa Sehari-Hari. Bandung: Kalam Hidup.


[1]Gordon H. Calrk, The Johannine Logos, (Maryland: The Trinity Foundation,1989) Hal 14.
[2] Ibid, hal 15
[3] Dave Habalberg, Tafsiran Injil Yohanes 1-5 Dari Bahasa Yunani Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini, (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1999), hal 32.
[4] Gordon H. Calrk, The Johannine Logos, hal 15.
[5] Ibid hal 15
[6] Nico Syukur Dister, Teologi sistematik 1 Allah Penyelamat, (Semarang:Kanisius,2004), hal 191,192.
[7] Ibid, hal 192.
[8] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari Dan Aplikasinya, (Malang: Literature Saat, 2005), hal 26,27.
[9] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari Dan Aplikasinya,hal 27.
[10] Dave Habalberg, Tafsiran Injil Yohanes 1-5 Dari Bahasa Yunani Karena Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini, hal 32.
[11] Ibid, hal 33.
[12] A.W. Pink, Tafsiran Injil Yohanes, (Surabaya: Yakin,1945)Hal 10.
[13] Ibid, hal 14,15.
[14] Soehardjo, dkk. Firman Allah yang Hidup Perjanjian Baru Dalam Bahasa Sehari-Hari,(Bandung: Kalam Hidup, 1977), hal 130.
[15] A.W. Pink, Tafsiran Injil Yohanes,hal 18.
[16] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari Dan Aplikasinya, hal 28,29.
[17] Tom Jacobs, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2000)Hal 151,152.
[18] Charles F. Preiffer, The Widiffe Bible Commentary (Tafsiran Alkitab Widiffe)Volume 3 Perjanjian Baru,(Malang: Gandum Mas,2008), hal 300.
[19]Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Buku Pegangan Teologi), (Malang: Literature Saat,2008), Hal 160.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar